Tuesday, 17 March 2009

Belawan Bahari Surveyor

Munzir Baraqah
Ketua Umum LSM WAKIL




Berawal dari pengaduan keluarga para korban ke Sekretariat Wahana Konservasi Iklim atau WAKIL (COC-International)akibat terbakarnya pipa penyalur BBM milik PT (Persero) Pertamina UPms I Medan yang terletak di alur Sungai Kampung Kurnia Kelurahan Belawan Bahari, Medan Belawan, masing-masing, M Yusuf Siagian, Rafiden Siagian, Junaidi dan Dartono seluruhnya penduduk Jalan Pulau Irian Makden Lama Belawan yang dibawa ke Poltabes Medan yang seharusnya untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi, malah ditahan dan di tuduh sebagai tersangka yang melakukan pembakaran dan pencurian minyak.



Dikatakan, menurut pengakuan keempat nelayan, ketika itu mencari kerang dengan menggunakan perahu bermotor melintas di daerah pipa Pertamina. Tiba-tiba perahu berhenti disebut-sebut kipas perahu membelit sesuatu dan kena pipa di dalam air selanjutnya menimbulkan api.



Salah seorang nelayan M Yusuf (51) menyatakan, ketika itu dia berangkat dari rumah bermaksud mencari kerang bersama keluarga di dalam perahu tersebut. Sedangkan yang mengendalikan perahu Jumidi. Baru 15 menit berjalan tiba-tiba baling-baling (kipas) berhenti terlilit sampah.



Namun sewaktu diengkol- engkol perahu tidak hidup dengan tiba-tiba timbul api menyambar ke perahu dan terbakar kemudian mereka terjun ke Paluh Korik, tutur Yusuf yang pekerjaan sebagai nelayan pencari kerang sejak tahun 1970 ini.



Sambil menunjukkan muka, kepala dan rambut yang terkena api, Yusuf yang mengenakan kemeja biru bercelana krim, menyatakan paluh itu hanya satu satunya jalan yang dilalui perahu untuk mencari kerang tersebut, katanya lagi.

Dikatakan ketika timbul api tersebut dia tidak mendengar suara ledakan dan langsung mereka melompat.



Dari keterangan yang berhasil diperoleh di lapangan menyebutkan, kobaran api diketahui warga sekitar pukul 05.00 WIB, sekitar tujuh kilometer dari Instalasi Medan Grup (IMG).

Pipa sepanjang 12 km yang bocor ini memiliki diameter 20 inci, dan dibangun pada tahun 1992 sedang digunakan untuk menyalurkan BBM dari kapal tanker MT Dokomo yang melakukan pembongkaran muatan saat kejadian, membawa BBM impor dari Singapura di tengah laut, melalui single point mooring (SPM), menuju tangki timbun di IMG.

Melihat kobaran api yang mulai membubung tinggi, warga Kampung Kurnia Belawan yang berada pada radius sekitar 150 meter terpaksa mengungsi.



Sementara warga Kelurahan Bagan Deli terutama yang bermukim di pinggiran Sungai yang tengah surut saat itu juga terpaksa mengungsi karena arus air yang telah terkontaminasi premium menuju Bagan Deli sehingga api terus menjalar.



Pipa penyalur BBM premium dari dermaga Jetti Pertamina yang terletak di kawasan Gabion Belawan ke Instalasi Pertamina UPms I Labuhan Deli. Kendati kobaran api tidak kelihatan karena terlindung pohon bakau, namun asap tebal dari lokasi kebakaran terlihat jelas dari radius lebih kurang tiga kilometer.



Sementara itu di sekitar lokasi kebakaran beredar isu, kebakaran pipa saluran BBM dari dermaga Jetty Pelabuhan Belawan menuju Instalasi Pertamina Medan Labuhan itu disebut-sebut terkait adanya kasus pencurian minyak yang dilakukan sekelompok orang dengan cara mengebor pipa.



Diduga pada saat aksi pencurian sedang berlangsung, salah seorang pelaku menyalakan pemantik api untuk merokok dan selanjutnya menyambar premium yang sedang meluber.
Kobaran api kemudian merangsek hingga ke kawasan Lingkungan VI Kelurahan Bagan Deli Belawan terbawa pasang surut air laut dan mengakibatkan banyak pohon bakau disepanjang alur anak sungai hangus terbakar.



Kondisi tersebut mengakibatkan masyarakat panik, bahkan warga di sekitar Lingkungan XI Kelurahan Belawan Bahari sempat mengungsi untuk mengantisipasi terjadi kebakaran besar, sebab terkait dengan kebakaran tersebut beberapa kali terdengar ledakan yang diduga berasal dari lokasi kebakaran.

Puluhan Balita Menderita Gizi Buruk di Belawan

Kelurahan Bagan Deli, Kelurahan Belawan Bahari merupakan kelurahan miskin (desa tertinggal) di Kecamatan Medan Belawan dimana di Kecamatan tersebut terdapat 6 kelurahan. Luas wilayah kelurahan Bagan Deli 169 Ha dan 230 Ha untuk kelurahan Belawan Bahari dan jumlah penduduk di 2 kelurahan sebanyak 16.386 jiwa atau 3.289 KK.



Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Belawan, dr. Ros Boru Sinaga menemukan sebanyak 70 hingga 80 balita di Kecamatan Belawan menderita gizi buruk (selvere malnutrition).


Lebih lanjut, dia menambahkan, jumlah penderita gizi buruk diketahui pihaknya setelah dilakukan pendataan di Kelurahan Bagan Deli dan Kelurahan Belawan Bahari pada September lalu.
Para penderita gizi buruk tersebut mengalami ciri-ciri, rambut tipis kemerah-merahan, wajah cekung, tulang iga menonjol, perut lepes dan bersisik, berat badan tak seimbang dengan tinggi tubuh serta cengeng.


Pihaknya telah menangani kasus tersebut dengan memberikan penyuluhan kepada warga dan memberikan bantuan makanan bergizi seperti susu dan biskuit.

Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Secara garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang atau anak sering sakit /terkena infeksi akibat buruknya kondisi lingkungan.



Dimana Peran Masyarakat Industri Terhadap Ekosistem Desa Belawan Bahari

Di beberapa titik di sungai Belawan, ditemukan kandungan sejumlah logam berat seperti Merkuri (Hg), Timbal (Pb), Seng (Zn), Cadmium (Cd), dan Cuprum (Cu) ratusan kali lipat lebih tinggi dari baku mutu, sehingga dikhawatirkan bisa membahayakan kesehatan.

Tingginya kandungan logam berat ini diduga disebabkan pembuangan limbah dari puluhan industri yang berada di sekitar sungai.

"Sesuai hasil penelitian yang kami lakukan, air sungai Belawan tidak aman lagi dikonsumsi masyarakat karena kandungan logam berat melampaui ambang batas yang diizinkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sumatera Utara (Sumut), Perdana Ginting.

Menurut penelitian Bapedalda Sumut pada tahun 2003 di 10 titik di sungai Belawan terungkap, sebanyak empat titik kandungan logam berat jauh melampaui ambang batas. Keempat titik tersebut adalah bagian hilir Sei Krio, Kampung Lalang, Kelambir Lima, dan Hamparan Perak.

Pencemaran yang terparah terjadi di bagian hilir sungai, yaitu Hamparan Perak dengan kandungan Hg mencapai 0,7012 mg/l. Padahal menurut standar baku mutu sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001, kandungan Hg yang aman adalah 0,002 mg/l. Kandungan Zn mencapai 0,1882 mg/l, padahal standar baku mutu hanyalah 0,05 mg/l, dan kandungan Pb mencapai 0,2884 mg/l, padahal standar baku mutu hanya 0,03 mg/l.

Menurut Perdana Ginting, di samping digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air minum, mencuci, dan mengairi sawah, sungai yang berhulu di Kabupaten Deli Serdang dan bermuara di Selat Malaka tersebut juga digunakan sebagai bahan baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Sunggal. Sedangkan jumlah penduduk yang tinggal di sekitar sungai itu mencapai 34.293 jiwa.

Menurut Perdana, sedikitnya terdapat 24 industri yang berada di sekitar daerah aliran sungai Belawan yang diduga membuang limbah ke sungai.

Berdasarkan kandungan logam berat pada sejumlah titik sampling, dan berdasarkan debit air sungai sebesar 12 m3/detik, jumlah logam berat yang dibuang ke sungai Belawan diperkirakan mencapai satu ton per hari, untuk setiap jenis limbah logam berat, (AIK) Bottom of Form.

"Sebagian besar perusahaan industri tersebut belum memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Mereka juga belum memiliki dokumen unit kelola lingkungan (UKL) dan unit pengelolaan lingkungan (UPL)," kata Perdana.



Kesimpulan



Kobaran api yang membubung tinggi serta air paluh yang telah terkontaminasi BBM akibat kebocoran pipa milik Pertamina di desa Belawan Bahari, Kecamatan Medan Belawan tidak lagi merupakan pemandangan yang langka.



Korban harta sudah tak terhitung, sementara korban fisik seperti luka bakar serta luka psikis akibat intimidasi dan provokasi yang disebut dengan bahasa penyelidikan, penyidikan atau dimintai keterangan yang dilakukan semata-mata hanya untuk menurunkan Bargaining Position dari para korban hingga berubah statusnya dari sebagai korban, menjadi tertuduh yang pada akhirnya mengakibatkan warga kesulitan untuk dapat menemukan haknya.



Korban harta, korban nyawa, korban fisik dan korban psikis merupakan salah satu mata rantai yang akrab mereka jalani, namun sadarkah kalau sebenarnya kita yang menetap diluar desa Belawan Bahari adalah korban terbesar kalau tidak segera dapat menanggulanginya….

No comments:

Post a Comment