Tuesday, 17 March 2009

Greensurveyor to Asahan, Batubara & Siantar

Dua Belas Januari Dua Ribu Delapan


Undangan yang kami terima untuk melihat kondisi Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara, yg baru berpisah dari Kabupaten induknya yaitu Kabupaten Asahan terasa bermanfaat dan cukup bermakna. Perjalanan dari Medan di hari ke dua belas bulan Januari dua ribu delapan sungguh melelahkan akibat perjalanan yang dilalui pada pukul sebelas di malam hari, dimana banyak makhluk hidup sudah pulas terlelap, sementara yang terdengar hanya deru mesin 2 motor kami diselingi kenderaan bertonase besar yg mengepulkan asap hitam penuh polusi.

Pukul 2 dini hari kami tiba di persimpangan Industri Asahan Aluminium atau Inalum dengan keadaan letih karena mata dan tubuh yang sudah sulit untuk diajak berkompromi. Tertuju semua mata pada warung kopi yang hingga dini hari masih buka untuk melayani konsumen bus antar kota antar propinsi.

Masing-masing yang sudah kehabisan energi, tanpa menunggu lama segera menyeruput kopi yang baru dihidangkan dalam keadaan panas dan segera melahap habis semua pesanan makanan.

Usai menunggu sebagian personil menghisap sebatang dua batang rokok, jam pun sudah menunjukkan pukul 2 pagi, segera kami tujukan arah ke rumah Bang Tamit, yaitu saudara dekat Rizal di Kuala Tanjung, melewati kantor Inalum.

Sesampainya kami di rumah bang Tamit, tidak mudah bagi kami untuk segera merebahkan diri, bahkan perlu tenaga ekstra untuk meneriakkan panggilan dan mengetuk-ngetuk rumahnya yang memang jauh di luar pagar halaman.

Namun, singkat cerita, setelah ber bual-bual sejenak, sampai juga kami di Pulau Kapuk, istilah orang Medan untuk tempat tidur untuk berlomba memperdengarkan suara dengkuran..


Pagi hari, usai sarapan, ditemani anak bang Tamit, kami mengunjungi objek wisata Pantai Inalum yang dikelola secara sederhana oleh keluarga Bang Tamit.


Perjalanan menuju pantai menyisakan tanya, mengapa aset wisata daerah ini tidak mendapat sentuhan dan bantuan pemerintah? Mengapa kondisi jalan sangat memprihatinkan? Mengapa limbah PT Inalum banyak mencemari pinggiran pantai, airnya berubah warna tak jernih lagi menyebabkan sejumlah tanaman menjadi kering, ikan-ikan banyak yang mati, dan pohon-pohon pelindung tak banyak ditanami?


Terdengar kabar, kalau PT Inalum pada dasarnya dan memang kenyataannya, tidak mendukung program penghijauan. Terlihat dari pelarangan terhadap penduduk untuk tidak menanami pepohonan pelindung di sepanjang jalan utama yg menghubungkan Simpang Inalum sampai ke Pelabuhan Kuala Tanjung.


Bila terlihat ada pepohonan yang ditanam, maka manajemen PT Inalum akan segera menebangnya, ujar Bang Tamit, yang merupakan salah seorang tokoh masyarakat di Asahan dan Batubara.


Konflik dengan masyarakat juga berlanjut pada nelayan yang banyak kehilangan mata pencaharian, akibat berkurangnya hasil laut, akibat limbah yg di duga tercemar zat beracun, dan tanpa proses pengolahan langsung di buang ke laut dan lahan masyarakat oleh berbagai perusahaan industri.


Kondisi yang memprihatinkan ini hendaknya dapat menjadi perhatian bagi pemerintah daerah dan pemerintah provinsi untuk dapat membuat kebijakan yang hendaknya membela kondisi lingkungan hidup dan membela sumber-sumber kehidupan rakyat.


Pertemuan yang membahas bagaimana selanjutnya tindakan-tindakan yang akan diambil untuk memulihkan kondisi alam di Batubara tanpa harus menuai konflik dengan masyarakat dan perusahaan memunculkan ide-ide baru yg mudah-mudahan akan segera dapat di wujudkan, terutama di sektor pariwisata, yang akan membangkitkan kembali kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dengan project utama dimulai dari pembenahan pantai Inalum agar lebih berdaya guna dan berhasil guna.


Alhamdulillah, kami berterima kasih sekali atas penyambutan ramah tamah dari sang empunya rumah, yang memang sungguh tulus menjamu kami. Insya Allah silaturahmi ini akan terus berlanjut dan banyak menghasilkan usaha-usaha yang berpihak pada masyarakat dan lingkungan hidup.

Karang Anyer, Pematang Siantar
Sengatan matahari tak mampu pudarkan semangat laju kenderaan tinggalkan rumah Bang Tamit melintasi jalanan gersang tanpa pepohonan pelindung berdaun rindang di median jalan utama menuju simpang Inalum.


Sepeninggal Kota Lima Puluh, pemandangan mulai dihiasi dengan pepohonan sawit dan karet menuju kota Perdagangan. Dua jam kemudian kami tiba di Siantar, dan sempatkan memasuki objek wisata Karang Anyer yg ramai dikunjungi pengunjung dari segala usia.


Air sungai yang lumayan deras dan berwarna jernih menggelitik untuk menceburkan diri, namun karena waktu yang kurang tepat, niat itu kami undurkan, dan segera bergegas menggeber motor menuju Medan via Merek dan Kabanjahe.

Udara yang masih segar dan asri di daerah dataran tinggi Merek tiba-tiba berubah mendung diikuti dengan turunnya hujan membuat suhu udara menjadi sangat dingin. Tiba-tiba ban depan motor yang dikemudikan Rizal menghantam lubang akibatkan motor sedikit sulit dikendalikan, namun dengan keseimbangan yang mantap dan dapat mengontrol keadaan, motor masih bisa dikuasai dengan baik.

Untuk menjaga dari keadaan yang diluar dugaan, walau dengan tubuh menggigil, ku ambil alih kemudi dan segera ku atur gas agar dapat menghindari lubang yang banyak menganga di malam yg gelap gulita diterangi lampu motor yg kesulitan menembus pekatnya kabut.

Pukul 9 malam kami tiba di Penatapan atau biasa disebut Bakaran Jagung dengan kondisi tubuh sangat menggigil. Teh manis panas yg kami pesan berangsur-angsur menetralkan telapak tangan yg sudah keriput memucat walau tak mampu meredam dingin tubuh yang telah basah kuyup di guyur hujan.

Nikmatnya peraduan, akhirnya terpenuhi setelah sekitar satu jam menembus dingin udara pegunungan.

No comments:

Post a Comment